Makalah Perkembangan Psikologi Agama Islam Pada Anak
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum,
Wr. Wb
Alhamdulillah segala puji bagi Allah
yang telah menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang dibedakan dari
makhluk lainnya, yang memerintahkan kepada kebaikan, bertaqwa kepada-Nya serta
melarang berbuat kemungkaran.
Shalawat dan salam semoga tercurah
kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak berbicara dari hawa nafsu, semua
pembicaraannya didasarkan atas wahyu yang diturunkan kepadanya, keselamatan
juga semoga dilimpahkan kepada keluarganya, sahabat dan para pengikutnya hingga
akhir zaman.
Berkat rahmat Allah SWT yang telah diberikan
kepada kami, makalah yang berjudul “Perkembangan
Psikologi Agama Islam Pada Anak” Dapat
kami selesaikan, sekalipun di dalamnya masih banyak terdapat
kesalahan-kesalahan, karena hanya itulah batas kemampuan kami, dan karya ini
tidak dapat kami selesaikan tanpa adanya bantuan-bantuan dari pihak Iain, oleh
karena itu ucapan terima kasih yang tak ternilai kami haturkan kepada pihak
yang telah membantu kami baik secara moril maupun materil.
Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas sekaligus mendalam dan menjadi sumbangan pemikiran
kepada pembaca khususnya para mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Syamsul Ulum Gunung Puyuh. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kepada dosen
pembimbing kami meminta masukannya demi
perbaikan pembuatan makalah kami di masa
yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca.
Wassalamualaikum, Wr.Wb
Sukabumi, 02
Oktober 2018
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar….…………………………………………………………………………… 1
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………... 2
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………….……………. 3
A.
Latar
Belakang
B.
Rumusan
Masalah
C.
Tujuan
Pembuatan Makalah
D.
Metode
Penelitian
Bab II Pembahasan…………………………………………………………….……………………...4
A.
Pengertian dan Tahap Perkembangan
Pada Anak
B.
Proses
Timbulnya Keagamaan Pada Anak……………………………………………5
C.
Perkembangan
Agama Pada Masa Anak…………………………………………… ..6
D.
Sifat
–Sifat Agama Pada Masa Anak…………………………………………………7
E.
Hambatan
–Hambatan Dalam Perkembangan Pada Masa Anak……………………...8
Bab III
Penutup………………………………………………………………………………………...9
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………..10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia adalah
merupakan suatu makhluk yang mempunyai beberapa kebutuhan baik itu kebutuhan
jasmani maupun kebutuhan rohani untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya.
Kebutuan-kebutuhan itu ada yang sifatnya apabila tidak dipenuhi bisa
berpengaruh pada kehiduan.
Berkenaan dengan
kebutuhan jasmani dan rohani itu ada suatu kebutuhan yang yang bersifat
universal atau setiap manusia mempunyai kebutuhan tersebut atau dengan kata
lain suatu kebutuhan yang sudah merupakan kodrat. Kebutuhan itu adalah
kebutuhan akan agama. Karena dengan adanya kebutuhan ini manusia akan
mengetahui siapa dirinya sesungguhnya, dan untuk apa dia diciptakan.
Jadi, kebutuhan
agama perlu ditanamkan pada usia tertentu, agar kelak manusia itu mempunyai
suatu pemahaman tentang agama yang baik nantinya. Usia yang baik atau
perkembangan jiwa beragama ini agar lebih jelasnya pemakalah akan mencoba
menguraikannya dalam makalah yang sederhana ini.
Ada Sekolompok
ahli yang berpendapat bahwa timbulnya jiwa keagamaan itu dari lingkungan,
karena anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religious. Menurut
pendapat ini, anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang dan bahkan anak
seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada bayi manusia itu sendiri.
Ada pula
sekolompok ahli yang berpendapat bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa
fitrah keagamaan. Namun fitrah ini baru berfungsi dikemudian hari setelah
melalui proses bimbingan dan latihan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian dan tahap perkembangan pada anak ?
2.
Bagaimanakah
proses timbulnya keagamaan pada anak?
3.
Bagaimanakah
perkembangan agama pada masa anak anak ?
4.
Bagaimanakah
sifat-sifat agama pada masa anak?
5.
Apa
saja hambatan-hambatan dalam perkembangan pada masa anak?
C.
Tujuan Pembuatan
Makalah
1.
Untuk
mengetahui pengertian dan tahap perkembangan pada anak
2.
Untuk
mengetahui proses timbulnya keagamaan pada anak
3.
Untuk
mengetahui perkembangan agama pada masa anak anak
4.
Menegtahui
sifat-sifat agama pada masa anak
5.
Mengetahui
hambatan hambatan dalam perkembangan pada masa anak
D.
Metode
Penelitian
Pada makalah ini kami menggunakan
metode deskripsi untuk menggambarkan masalah penelitian dengan metode
Penelitian kepustakaan atau library research yang dilakukan dengan cara
mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang
ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Tahap Perkembangan Pada Anak
Masa kanak- kanak adalah masa masa sebelum masa remaja, yaitu masa
sebelum umur 12 tahun, di mana masa tersebut sebenarnya mengandung tiga
periodesasi perkembangan, yaitu :
1.
Umur
0,0 – 2,0 tahun disebut masa vital. Masa vital merupakan masa perubahan jasmani
yang tercepat. Pada umumnya jika anak itu normal dan sehat, maka selama enam
bulan pertama, bertambah kurang lebih dua kali lipat dari berat badannya
sewaktu lahir. Orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali terhadap
pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak dan juga dalam pembentukan
pribadi anak pada masa ini.
2.
Umur
2,1 – 6,0 tahun disebut masa kanak-kanak. Pada masa kanak-kanak terjadi
perkembangan psikis yang terbesar. Menurut Konhstam pada masa ini anak
mengalami perkembangan pengamatan indera yang terbesar. Anak mulai sadar akan
dirinya dan mulai mengenal antara dirinya dan orang lain. Masa ini disebut
orang Barat dengan masa individualisme yang pertama, yaitu suatu masa di mana
anak menunjukkan kecenderungannya untuk berkeras kepala, suka menolak perintah
atau saran-saran dari orang lain.
3.
Umur
6,1 – 12,0 tahun disebut masa sekolah. Masa sekolah yaitu masa di mana anak
sudah mulai dianggap matang untuk mengikuti pelajaran di sekolah dasar, jika
perkembangan anak tersebut normal. Adapun tanda-tanda kematangan itu antara
lain:[1]
a.
Ada
kesadaran terhadap kewajiban dan pekerjaan serta berkesanggupan untuk
menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh orang lain kepadanya walaupun
sebenarnya dia tidak menyukainya.
b.
Perasaan
sosial kemasyarakatan sudah mulai tumbuh dan berkembang, hal ini dapat terlihat
di dalam pergaulan anak dengan teman-temannya.
c.
Telah
memiliki perkembangan jasmani yang cukup kuat dalam rangka melaksanakan
kewajiban dan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
d.
Telah
memiliki perkembangan intelek yang cukup besar, hingga memiliki minat,
kecekatan, dan pengetahuan.
Menurut
Raharjo dalam karyanya yang berjudul “Pengantar Ilmu Jiwa Agama”, perkembangan
jiwa beragama pada anak terbagi menjadi tiga, yaitu:[2]
1.
The
Fierly Tale Stage (Tingkat Dongeng), tahap ini terjadi pada anak berumur 3-6
tahun. Konsepnya mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi,
sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastis yang
diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Cerita Nabi akan
dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng-dongeng.
2.
The
Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan), pada tingkat ini pemikiran anak tentang
Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai Pencipta. Hubungan dengan Tuhan
yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan
pikiran atau logika. Pada tahap ini terdapat satu hal yang perlu digaris bawahi
bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logika,
sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan
shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
3.
The
Individual Stage (Tingkat Individu), pada tingkat ini anak telah memiliki
kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka.
B. Proses Timbulnya Keagamaan Pada Anak
Manusia
dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik, maupun psikis. Walaupun dalam keadaan
yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi
bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang
mentap lebih-lebih pada usia dini.
Sesuai dengan
prinsip pertumbuhannya, seorang anak dalam proses menjadi dewasa memerlukan
bimbingan sesuai dengan prinsip yang dimilikinya, yaitu:
1.
Prinsip
biologis
Secara fisik, anak yang baru dilahirkan
dalam keadaan lemah, dalam segala gerak dan tindak tanduknya, selalu memerlukan
bantuan dari orang-orang dewasa sekelilingnya. Dengan kata lain ia belum dapat
berdiri sendiri karena manusia bukanlah merupakan makhluk instinktif. Keadaan
tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
2.
Prinsip
tanpa daya
Sejalan dengan belum sempurnanya
pertumbuhan fisik dan psikisnya, maka anak yang baru dilahirkan hingga
menginjak usia dewasa selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia sama
sekali tidak berdaya untuk mengurus dirinya sendiri.
3.
Prinsip
eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan
potensi manusia yang dibawanya sejak lahir, baik jasmani maupun rohani
memerlukan pengembangan melalui pemeliharan dan latihan. Jasmaninya baru akan
berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental
lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi jika kematangan dan
pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian
perkembangannya.
Kesemuanya itu tidak
dapat dipenuhi secara sekaligus melainkan melalui pentahapan.
C.
Perkembangan
Agama Pada Masa Anak
Setiap anak atau
manusia mempunyai beberapa kebutuhan dasar yang berasal dari dorongan-dorongan
manusiawinya, antara lain:
1.
Dorongan
fisik (jasmaniah)
2.
Dorongan
emosional (perasaan)
3.
Dorongan
sosial (bergaul, bermasyarakat)
4.
Dorongan
mental (berilmu dan berpengalaman)
5.
Dorongan
spiritual (beragama, bermoral, dan sebagainya)
Dorongan-dorongan
tersebut dibawa anak semenjak lahir, sehingga dengan demikian setiap anak yang
normal membutuhkan hal-hal yang sifatnya jasmaniah dan berkaitan dengan
kebutuhan biologisnya, untuk dapat memenuhi dan menyalurkan perasaannya,
kebutuhan akan orang lain dalam kehidupan bersama dan bermasyarakat, kebutuhan
ilmu pengetahuan dan pengalaman termasuk kebutuhan akan agama dan moral.
Dengan
demikian rasa keagamaan yang terdapat dalam diri anak adalah bersifat
instinktif (fitri), sebagaimana dalam aspek-aspek psikis yang lainnya. Rasa
keagamaan itu ada dengan sendirinya dalam diri anak yaitu rasa pengakuan adanya
kekuatan dari sesuatu di atas kekuatan dirinya dan alam.
Perkembangan
agama pada anak sangat ditentukan sangat ditentukan oleh pendidikan dan
pengalaman. Dan seorang anak yang tidak mendapat pendidikan agama dan tidak
pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan
cenderung terhadap sikap negatif terhadap agama. Hubungan anak dengan orang
tuanya, mempunyai pengaruh dalam perkembangan agama anak, karena anak akan
merasakan hubungan hangat dengan orang tuanya, merasa bahwa ia disayangi dan
dilindungi, serta mendapat perlakuan yang baik. Mereka akan mudah menerima dan
mengikuti kebiasaan orang tuanya dan selanjutnya akan cenderung kepada agama.[3]
Memang
untuk memberikan pendidikan agama khususnya menanamkan rasa ke-Tuhanan dalam
diri anak yang relatif usianya sangat muda, orang tua sedikit mengalami
kesulitan karena bagi anak itu sendiri pemikiran tentang Tuhan adalah sesuatu
tentang kenyataan luar, dan anak pun juga akan sedikit mengalami pengalaman
yang pahit.
Dengan
demikian maka di dalam penjabarannya kita melihat berbagai tingkah laku anak
dan juga di dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada orang di
sekitarnya ataupun juga di dalam lukisan kata-kata mereka. Yang kesemuanya itu
merupakan penyaluran yang efektif bagi anak sebagai penyebab dari keraguan yang
selama ini dialami. Dalam saat-saat demikian inilah pengaruh luar mempunyai
perasaan yang sangat menentukan pola keagamaan anak, dan perkembangan rasa
keagamaannya untuk masa-masa yang akan datang.[4]
D. Sifat –Sifat Agama Pada Masa Anak
Memahami konsep
keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan
ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti pola
ideas concept on authority. Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya
autoritas, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh fakrot
dari luar diri mereka. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada
diri anak dapat dibagi atas:
1.
Unreflective
(tidak mendalam).
Anggapan anak terhadap ajaran agama
dapat mereka terima dengan tanpa kritik. Karena anggapan mereka tidak begitu
mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan
keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal.[5]
2.
Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri
sendiri sejak tahun pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan
dengan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur
pada diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada rasa egonya. Dengan demikian,
semakin bertumbuh, semakin mengingkat pula egoisnya.
3.
Antromorpis
Konsep mengenai ke-Tuhanan pada anak
berasal dari hasil pengalamannya dikala ia berhubungan dengan orang lain.
Mereka menganggap bahwa keadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Pekerjaan Tuhan
mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat.
4.
Verbalis
dan Ritualis
Mereka menghafal secara verbal
kalimat-kalimat keagamaan. Mereka juga melaksanakan tuntunan yang diajarkan.
5.
Imitatif
Dapat kita saksikan bahwa tindak
keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh dari meniru.
Berdo’a dan sholat misalnya mereka laksanakan karena hasil melihat perbuatan di
lingkungan, baik berupa pembiasaan atau pun pengajaran yang intensif.
6.
Rasa
heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan
sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Rasa kagum pada anak belum bersifat
kritis dan kreatif sebagaimana orang dewasa.[6]
Ringkasnya,
masa anak-anak merupakan periode yang dinamis secara psikologis maupun
religius. Anak-anak memiliki kemampuan yang luar biasa dalam meniru perilaku
orang dewasa. Tetapi pada umumnya anak memasukkan ke dalam pikiran, perasaan,
dan kehendaknya apa yang didengar dan dilihatnya sesuai dengan kemampuannya.
Menerima agama masa anak dan memberi keleluasaan kepada mereka untuk bebas ikut
serta dalam kegiatan umat yang diikuti oleh semua anggota dari segala umur,
dapat menjadi cara untuk menyiapkan mereka dalam peziarahan menuju kedewasaan
religius.[7]
E.
Hambatan
–Hambatan Dalam Perkembangan Pada Masa Anak
Di dalam menuju
kedewasaan beragaman, maka akan terjadi hal-hal yang kadang-kadang mengganggu
perkembangan pada anak. Perkembangan memerlukan waktu, karena kedewasaan
beragama tidak terjadi secara tiba-tiba. Dan juga perkembangan tersebut
tidaklah monoton, tetapi banyak variasi secara berirama dijumpai di dalamnya.
Menurut M. Hafi Anshari dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Ilmu Jiwa
Agama” menyebutkan dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan, yaitu:
1.
Faktor
diri sendiri
Dalam hal ini ada dua yang menonjol
yaitu kapasitas diri dan pengalaman. Kapasitas diri berupa kemampuan ilmiah
(ratio) dalam menerima ajaran-ajaran agama. Di sini akan terlihat perbedaan
antara anak yang mampu dan kurang mampu dalam menerima agama. Bagi yang mampu
menerima dengan rationya, mereka akan menghayati dan kemudian mengamalkan
ajaran-ajaran agama itu dengan baik.
Namun lain lagi dengan anak yang kurang
mampu menerima dengan rationya, dia akan lebih banyak terganggu kepada kondisi
masyarakat yang ada. Dalam keaktifan berbuat melakukan perbuatan religious
sebenarnya mereka penuh keraguan dan kebimbangan, sehingga apabila terjadi
perubahan-perubahan, maka perubahan tersebut tidaklah melalui prose berpikir
sebelumnya, tetapi lebih bersifat emosional.[8]
Di samping kemampuan rasional, kemampuan
emosional juga akan berpengaruh terhadap perkembangan rasa keagamaan anak,
seperti dihinggapi rasa enggan untuk mengerjakan kelakuan-kelakuan keagamaan
atau keengganan merubah dari sesuatu yang sebenarnya tidak diyakini (ragu)
kepada yang tidak diragukan karena rasa solidaritas yang terlalu besar.
2.
Faktor
luar (lingkungan)
Faktor luar yaitu beberapa kondisi dan
situasi lingkungan yang tidak banyak memberikan kesempatan untuk berkembang,
malah justru menganggap tidak perlu adanya perkembangan dari apa yang telah
ada. Faktor luar antara lain tradisi agama atau pendidikan yang diterima.
Kultur kemasyarakatan yang sudah dikuasai tradisi tertentu dan berjalan secara
turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, kadang-kadang terasa
oleh sebagian orang sebagai suatu belenggu yang tidak pernah selesai.
Kadang-kadang tradisi itu sendiri tidak ketemu dari mana asal-usul dan sebab
musababnya, mulai kapan ada dan bagaimana ceritanya.[9]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
penjelasan di dalam makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa rasa keagamaan
yang terdapat dalam diri anak bersifat instinktif (fitri), sebagaimana dalam
aspek-aspek psikis yang lainnya. Meskipun seorang anak terlahir dalam keadaan fitrah,
peran orang tua sangat pengaruh dalam perkembangan agama pada anak. Orang
tualah yang menentukan jenis pendidikan agama apa yang diberikan kepada
anaknya. Bagi orang tua yang tidak memperdulikan agama namun mengharapkan
anaknya akan memperoleh dasar keyakinan agama yang baik, hal itu tidak
memungkinkan.
Selain
ditentukan oleh peran orang tua, perkembangan agama pada anak juga sangat
ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman. Seorang anak yang tidak mendapat
pendidikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti
setelah dewasa akan cenderung terhadap sikap negatif terhadap agama. Dengan
demikian nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan seorang anak sebelum
bersekolah, atau sebelum mereka remaja akan memberikan pengaruh yang positif
dalam tabiat anak itu, sampai ia menjadi dewasa.
B. Salam Penutup
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat
bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin disampaikan mengenai
makalah ini, pintu saran dan kritik selalu terbuka dari kami.
Apabila ada atau terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan
dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari kata
salah, khilaf, Alfa, dan lupa.
Billahi Taufik Walhidayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
DAFTAR
PUSTAKA
Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 2002)
Drs. H.M. Hafi Anshari,
Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama
(Surabaya: Usaha Nasional, 1991)
Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 1996)
Robbert W. Crapps, Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan,
(Yogyakarta: Kanisius, 1994)
[1]
Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu
Jiwa Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 69-70.
[2] Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 2002), hlm. 28-29.
[3] Prof. Dr. Zakiah
Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1996), hlm 59.
[4]
Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu
Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 75.
[5] Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 68.
[6] Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 69-71.
[7] Robbert
W. Crapps, Perkembangan Kepribadian dan
Keagamaan, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 22.
[8]
Drs. H.M.
Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama,
(Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 97-98.
[9] Drs. H.M. Hafi
Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama,
(Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm.99
No comments